07 April 2009

Ular dan setan

Bagaimana ceritanya ular mula-mula diidentikkan dengan setan rada kabur. Cerita kuno dalam kitab Torah (Kejadian 3), tidak membuat rumusan itu. Kesimpulan bahwa ular Kejadian 3 adalah identik dengan iblis muncul kemudian. Mohon dicatat, kitab-kitab yang dikenal sebagai kitab-kitab Musa atawa Pentateukh (lima kitab: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan), tidak cerita-cerita ke kita soal adanya iblis dalam hidup manusia. Seolah-olah penulisnya tidak tahu apa-apa soal tokoh mahajahat ini. Iblis baru nongol di kitab Tawarikh (itupun hanya sekali, dan agak kontroversial konteksnya). Dalam kitab Ayub, iblis jadi tokoh di belakang layar atas berbagai penderitaan Ayub. Memang kalau disimak ada kemiripan dengan upaya menjatuhkan Adam dan Hawa ke dalam dosa. Cuma disini iblis tampil tidak frontal berhadapan dengan Ayub. Iblis juga tidak sembunyi-sembunyi sama Tuhan dalam upaya mencobai Ayub, malahan pake acara minta ijin segala. Mungkin dari sini asal mulanya orang mulai curiga alias berhipotesis, jangan-jangan si ular itu iblis yang menyamar.

Hipotesis yang masih samar-samar itu akhirnya makin dibikin tegas di waktu-waktu kemudian. Kitab Henokh, yang dipakai di aliran Orthodox misalnya, berkisah bahwa ada malaekat yang tidak setuju waktu Tuhan bilang mau menciptakan manusia. Ada-ada saja. Ceritanya mereka keberatan, kok mau-maunya sih Tuhan bikin makhluk yang bisa jatuh ke dalam dosa. Ujung-ujungnya di antara malaikat ini ada yang memberontak melawan kebijakan Tuhan, terus diusir dan jadi iblis. Di masa Yesus, si setan sudah merajalela mulai dari kitab Matius dan terus disebut-sebut sebagai sumber onar di sepanjang batang tubuh Perjanjian Baru sampai dijanjiin bakal kalah pada akhirnya di Kitab Wahyu. Pokoknya nasibnya bakal tragis deh. Nah, di Perjanjian Baru ini benar-benar nyata topeng si ular dibuka habis. Pokoknya menurut para penulis kitab ini, sudah tidak lain tidak bukan deh, ular kejadian 3 adalah iblis laknat itu. Julukan 'si ular tua' buat si iblis benar-benar menelanjangi habis-habisan topeng kesayangan yang selama ini ditutup rapat.

Identifikasi ular dengan setan memberi dampak buruk buat kehidupan masyarakat ular biasa di muka bumi. Biarpun nyata-nyata iblis hanya memakai ular sebagai penyamaran (artinya keluarga besar ular sendiri mustinya nggak ada sangkut paut sejati dengan kisah manusia jatuh ke dalam dosa), tapi nasi sudah menjadi bubur. Citra negatif terlanjur melekat pada kaum ular. Orang-orang sudah terlanjur memberi cap jelek kepada ular, seberapa banyak pun amal si ular tidak akan mampu menghapus anggapan buruk masyarakat manusia ini. Ada perang dingin antara manusia yang berdarah panas dengan ular yang berdarah dingin. Dimanapun ular ditemukan, manusia cenderung ingin membunuhnya. Biasanya karena ketakutan. Maklum, sangat sedikit orang yang bisa membedakan mana ular berbisa, mana yang tidak. Selain itu, pawang ular sudah jarang praktek di masa sekarang.

Tidak banyak manusia yang tahu bahwa ular sebenarnya tidak suka cari perkara. Kalau tidak diserang, ular biasanya tidak menyerang. Dia benar-benar menjaga sumpah dan janji seorang pendekar, yang hanya akan memakai ilmunya jika terdesak. Begitulah ular, berjiwa satria, tetapi terlanjur disamakan dengan iblis syaitan yang terkutuk. Jadi jika ketemu manusia, apes dah. Entah yang apes manusianya atau ularnya. Semua gara-gara cerita kuno 3000 tahun yang lalu. Betapa besarnya pengaruh mitos dalam kehidupan umat manusia.
Custom Search